Tulisan ini akan membahas sebuah fenomena buruk yang tidak baik dibaca untuk kalian penganut mindfulness sekaligus sedang merintis startup.

Dahulu, kala virus Covid 19 memaksa dunia masuk ke mode pandemi, era digital sedang bertransformasi sangat pesat. Transformasi digital tersebut memaksa banyak bisnis lama yang ikut memanfaatkan sektor digital untuk bisa bertahan di tengah pandemi.

Tidak hanya bisnis lama, transformasi digital juga membangunkan sektor lama yang banyak dikembangkan oleh masyarakat, yang dikenal juga dengan “startup”.

Kalau dilihat dari artinya, startup itu adalah bentuk perusahaan rintisan yang berfokus pada layanan inovatif dan sedang berada di tahap pengembangan.

Biasanya startup memanfaatkan sektor teknologi untuk menggapai pasar mereka. Hal tersebut juga tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat yang sudah berubah saat pandemi Covid 19. Seperti yang sudah kita tahu, saat itu kita dipaksa untuk mengurangi mobilitas di luar rumah, sehingga hanya teknologi lah yang memudahkan kita untuk beraktivitas.

Maraknya Startup di Kalangan Anak Muda

Kala itu, generasi yang sangat fasih terhadap teknologi antara lain adalah generasi Y dan Z. Dibanding dengan generasi X dan Boomers, generasi Y dan Z lebih mudah beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi tersebut.

Seringnya anak muda beraktivitas dengan teknologi, khususnya di dunia digital, maka semakin besar peluang mereka untuk menuangkan ide-ide “liar” mereka di sana.

Akhirnya, banyak dari anak muda mulai melakukan aktivitas positif mereka. Mulai dari melakukan zoom meeting untuk membahas solusi permasalahan masyarakat dengan menciptakan layanan dan produk tertentu.

Selain itu, saat itu pemerintah juga sangat gencar untuk membuat webinar-webinar terkait pengembangan bisnis startup untuk menciptakan ekonomi mandiri di tengah pandemi Covid 19.

Maka dari itu, startup menjadi salah satu sektor yang sangat digemari oleh anak muda, tidak terkecuali bagi mahasiswa yang dituntut untuk berfikir inovatif dan mandiri secara ekonomi.

Karena hal tersebut, jumlah startup selalu bertumbuh, hingga puncaknya saat ini jumlah startup ada lebih dari 3.100. Angka tersebut tentu berkembang pesat dari jumlah startup di tahun 2024, yang hanya ada 2.500 startup aktif.

Fenomena Anak Muda untuk Menciptakan Startup yang Hanya Sebatas “Plan”

Fenomena yang tidak kalah unik adalah anak muda yang menciptakan startup hanya sampai tahap plan. Di kalangan mahasiswa, marak sekali lomba-lomba business atau startup plan yang menarik para mahasiswa untuk menciptakan ide bisnis mereka.

Namun yang perlu disayangkan adalah lomba-lomba ini tidak bisa membawa mereka mewujudkan ide bisnis tersebut. Argumen ini mungkin terdengar sedikit sinis, tetapi sayangnya ini adalah fakta yang dirasakan langsung di lapangan (sahih secara empiris).

Lomba-lomba tersebut hanya membuat para anak muda, terkhusus mahasiswa, belajar membual dan berimajinasi bisa berbisnis sesuai ide-ide mereka.

Namun, tentu saja ini bukanlah kesalahan para panitia lomba. Berdasarkan nama lomba mereka, tentu saja itu tidaklah salah, karena mereka hanya mengakomodasi “plan”, bukan “action”.

Sekalipun Sudah Action, Berapa Startup yang Sudah Berhasil?

Di era tahun 2020 hingga 2023, memang ada banyak sekali nama startup yang namanya sudah tidak asing lagi di masyarakat.

Mungkin kamu sudah pernah dengar Bukalapak, Zenius, TaniFund, atau hingga GetPlus? Jika ada beberapa atau bahkan semua nama tersebut tidak asing lagi, pertanyaan selanjutnya adalah “berapa layanan startup tersebut yang saat ini masih kamu gunakan?”.

Jika ada yang menjawab salah satu dari nama-nama tersebut, maka sudah dipastikan kamu sedang berbohong. Saat ini, semua startup tersebut kehilangan layanan utama mereka.

Berkenalan dengan Fenomena “Tech Winter”

Matinya era startup saat ini karena adanya fenomena yang disebut sebagai tech winter. Fenomena ini yang membuat sektor teknologi mengalami penurunan yang ditandai dengan merosotnya minat investasi, seretnya pendanaan modal ventura, serta lambatnya pertumbuhnan bisnis di sektor teknologi.

Tech winter tidak hanya menghantam startup, tetapi para pekerjaan teknologi, seperti programmer, database engineer, UI/UX designer, dan sejenisnya.

Fenomena ini sebenarnya sudah sering diprediksi di berbagai forum atau grup teknologi. Adanya tech winter membuat startup yang sudah action tidak bisa benar-benar action.

Mereka hanya terpaku pada proses action dan berpusat pada visi mereka. Sangat sedikit dari mereka yang mampu menghasilkan income sesuai dengan modal yang dikeluarkan atau diberikan oleh para investor.

Terlebih lagi saat ini sudah ada kecerdasan buatan (AI) yang membuat segalanya “terlihat” lebih mudah. Banyak orang sudah mulai mencoba-coba sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.

Hukum yang Tidak Pasti menjadi Double Kill bagi Startup di Indonesia

Tidak hanya tech winter, tantangan startup lainnya adalah ketidakpastian hukum yang membuat sektor ini semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

Banyaknya kasus fraud hingga korupsi yang menjerat para pegiat-pegiat startup membuat sektor ini tidak lagi meyakinkan. Bahkan, ini menjadi salah satu alasan para investor pikir-pikir untuk menginvestasikan uangnya ke startup di Indonesia.

Salah satu kasus hukum yang menarik untuk diperhatikan adalah korupsi BRI Ventures. Adanya “keabu-abuan” dalam kasus hukum ini membuat banyak masyarakat dan investor mulai meninggalkan sektor startup di Indonesia.

Terlebih lagi mental masyarakat Indonesia yang gemar korup dan susah jujur membuat startup bukanlah hal yang cocok bagi masyarakat Indonesia itu sendiri.

Masihkah Kamu Ingin Membuat Startup?

Sebenarnya sektor startup masih “renyah” bagi beberapa orang, terlebih bagi mereka yang bergelut di dunia teknologi. Namun permasalahan-permasalahan yang ada tentu tidak boleh diabaikan begitu saja.

Sektor startup yang renyah harus didukung dengan kesadaran akan tantangan yang tidak kalah renyahnya. Bagi orang yang suka denial dengan tantangan, sudah dipastikan mereka bukan orang yang tepat untuk membuat startup.

Selain itu, sektor startup saat ini membutuhkan mental yang kuat dan jujur. Bagi mereka yang suka membual dan mental korup, sudah dipastikan masa depan kalian adalah kebangkrutan atau bahkan jeruji penjara.

Namun sekali lagi, tulisan ini membuka kesadaran kita bahwa sektor startup sebenarnya sangatlah sulit, terlebih kalau kita memiliki visi yang besar. Maka dari itu, masihkan kamu ingin membuat startup di tengah permasalahan yang ada?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *