Masih ingatkan kamu dengan ucapan Presiden Prabowo saat pidato di acara HUT PAN pada pertengahan September 2026 lalu? Potongan video yang viral tersebut sepertinya sudah kamu dan teman ngopimu ketahui karena saking aduhai-nya.

Kira-kira, inilah kutipan yang Presiden Prabowo lontarkan pada saat itu, “Terserah! Pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya, jadi goblok!”. Ucapan tersebut tentu tidak disebutkan dengan wajah senyum bahagia sembari berjoget seperti saat dirinya kampanye di tahun 2024 lalu.

Lontaran kontroversial tersebut menarik perhatian warganet hingga menimbulkan berbagai komentar. Tentu mayoritas komentar adalah kekecewaan terhadap seorang pemimpin negara yang berkata kasar pada sebuah forum resmi. Namun, pada tulisan ini mari kita bedah apakah yang disampaikan Presiden Prabowo tersebut masuk akal atau tidak.

Kata Kunci Penting “Yang Menganggap Dirinya”

“Terserah! Pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya, jadi goblok!”. Coba kamu baca secara teliti lontaran Presiden Prabowo tersebut. Ada kata kunci menarik yang kita lewati karena saking kesalnya, yakni “yang menganggap dirinya”.

Jika kita telusuri, kata “menganggap” sebenarnya memberikan jarak antara persepsi dan kenyataan. Artinya, tidak ada bukti sahih yang membuat pakar “yang menganggap dirinya” pakar benar-benar seorang pakar.

Presiden Prabowo sama sekali tidak mengatakan “pakar itu goblok”. Ia menyebut pakar yang menganggap dirinya pakar. Itu dua hal berbeda. Kata “yang menganggap dirinya” ini lebih mengarah pada seseorang yang mengklaim keahlian yang tidak punya dasar, atau bisa disebut orang yang merasa sudah menguasai sesuatu padahal belum.

Fenomena Efek Dunning-Kruger

Di dalam dunia psikologi, ada fenomena yang disebut Dunning-Kruger effect atau efek Dunning-Kruger. Istilah ini berasal dari penelitian psikolog David Dunning dan Justin Kruger pada 1999.

Temuan ini dari fenomena ini adalah bahwa ada orang dengan kemampuan rendah di suatu bidang cenderung melebih-lebihkan kemampuannya sendiri. Jika kamu pernah menemui orang yang berbicara dengan kelewat percaya diri terhadap sebuah keilmuan, padahal yang dibicarakan adalah hal dasar atau bahkan kurang tepat, maka orang tersebut bisa diindikasikan berada pada fenomena ini.

Orang yang belum menguasai bidang tertentu cenderung tidak punya ilmu yang cukup untuk menyadari kekurangan ilmunya. Sederhananya, orang yang sudah menguasai bidang tertentu cenderung merasa kurang pintar, karena mereka memiliki ilmu yang bisa mengukur kapasitas ilmu yang dikuasai tersebut.

Orang yang tidak berada dalam fenomena ini biasanya menerapkan pepatah “semakin berisi semakin merunduk”, yang berarti semakin tinggi ilmu, pengetahuan, atau pencapaian seseorang, ia harus semakin rendah hati dan tidak sombong.

Presiden Prabowo sebenarnya menyindir mereka yang berada pada fenomena ini. Banyak pakar “yang menganggap dirinya” pakar membicarakan ilmu di bidang tertentu, padahal sebenarnya mereka sama sekali tidak paham dengan ilmu di bidang tersebut yang sesungguhnya.

Terlepas dari benar atau salahnya Presiden Prabowo menyebut kata “goblok” pada sebuah forum, tetapi tetap perkataan Presiden Prabowo itu masuk akal. Terlebih lagi saat ini banyak pakar bodong yang membuat populasi orang “goblok” di Indonesia bertambah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *