Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya berkelakar akan menghabiskan waktu dengan memancing di halaman belakang rumahnya.

Barangkali, setelah kurang lebih setahun berhadapan dengan angka, anggaran, dan pertemuan kekuasaan, memancing memang menjadi pilihan yang lebih menenangkan.

Tidak perlu lagi rapat kabinet. Tidak ada lagi konferensi pers. Tinggal lempar kail, menunggu, lalu berharap ada ikan yang menyambar.

Ada satu pertanyaan menarik, ikan apa yang akan ditangkap Purbaya? Apakah ikan teri yang kecil tetapi jumlahnya banyak? Atau ikan kakap, yang lebih besar dan tentu lebih membanggakan untuk dipamerkan?

Memancing ikan kadang terasa seperti memancing pergerakan penguasa untuk mau menangkap penyeleweng hukum dan peraturan. Ikan kecil selalu terlihat dekat dengan rakyat, sementara yang besar sering berenang di perairan yang jauh lebih dalam. Tak dapat dijangkau oleh penguasa, apalagi oleh rakyat yang hanya memiliki alat pancing seadanya.

Karena keterbatasan alat pancing, sering kali yang tertangkap adalah ikan teri, tetapi itu bukanlah sebuah masalah. Ikan teri memang kecil, tetapi tidak boleh diremehkan. Satu keranjang teri bisa menghidupi banyak orang.

Bukankah begitu hidup ini bekerja? Sambil berusaha agar dapat menangkap ikan besar, kita harus memastikan ikan kecil pun tetap punya tempat di keranjang penyimpanan. Sayangnya, ikan kecil inilah yang terus-menerus paling mudah ditangkap.

Jika yang muncul justru ikan kakap, ceritanya pasti berbeda. Ikan kakap biasanya tidak berenang sembarangan. Ia punya wilayah, punya ukuran, dan untuk mendapatkannya diperlukan strategi serta kesabaran. Dalam politik, ikan besar juga sering punya karakter serupa. Ia tidak mudah ditangkap, tetapi sekali tertangkap, banyak mata langsung memperhatikan.

Barangkali justru di situlah letak seni dari kegiatan memancing oleh seorang mantan Menteri setelah ia dibebastugaskan. Ketika seseorang sudah keluar dari ruang kekuasaan, yang tersisa adalah kail seadanya, umpan biasa, dan waktu untuk bersabar. Tidak ada lagi kekuasaan yang bisa dilemparkan sebagai umpan.

Tidak ada lagi kewenangan yang bisa digunakan untuk menarik ikan. Yang diuji hanya kesabaran, juga berharap sedikit keberuntungan.

Di dalam kolam politik, ikan teri bisa bergerombol mengikuti arus, sementara ikan kakap berenang lebih tenang di kedalaman. Pergantian menteri pun tidak otomatis membuat laut ekonomi berubah.

Pertanyaannya bukan siapa yang memegang kail, melainkan siapa yang akhirnya mendapatkan hasil tangkapan dan siapa yang hanya menjadi umpan.

Jadi, selamat memancing, Purbaya. Semoga halaman belakang rumah Anda cukup luas untuk menampung hasilnya. Kalau yang tertangkap hanya ikan teri, mungkin itu pengingat bahwa ekonomi memang harus dimulai dari yang kecil.

Tetapi kalau tiba-tiba seekor kakap menyambar kail, publik boleh saja bertanya, “Apakah ini sekadar ikan, atau ada sesuatu yang lebih besar sedang berenang di balik permukaan?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *